Aceh Besar, wartasabang.com — Ada kisah yang berbeda di balik perayaan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Aceh Besar. Bukan tentang pasangan yang berdiri di pelaminan, melainkan dua orang yang berdiri di belakang layar pendidikan: Robbi Yanta, S.E., operator MAN 4 Aceh Besar, dan Nurfadhillah, S.Kom., operator MIN 5 Aceh Besar.
Keduanya sama-sama meraih penghargaan sebagai Operator Madrasah Terbaik Tahun 2026.
Penghargaan tersebut diserahkan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., dalam rangkaian peringatan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 di Pesantren Modern Al Manar, Aceh Besar, Senin, 17 Agustus 2026.
Ada sesuatu yang romantis dari dua sertifikat yang mereka genggam hari itu. Bukan karena keduanya menerima penghargaan pada tempat dan waktu yang sama, tetapi karena pekerjaan yang mereka jalani juga sama-sama menuntut ketelitian, kesabaran, dan kesetiaan pada pekerjaan yang sering kali tidak terlihat.

Robbi bekerja sebagai operator MAN 4 Aceh Besar. Nurfadhillah menjalankan tugas serupa di MIN 5 Aceh Besar. Institusinya berbeda, ruang kerjanya berbeda, tetapi denyut pekerjaannya hampir sama: memastikan data, administrasi, dan berbagai layanan digital madrasah tetap berjalan.
Di balik layar, operator berhadapan dengan angka, dokumen, aplikasi, dan tenggat waktu. Mereka mungkin tidak selalu berada di panggung ketika madrasah menerima penghargaan. Namun, data yang mereka kelola sering menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Karena itu, penghargaan untuk Robbi dan Nurfadhillah tidak sekadar menjadi capaian individu. Ia juga menjadi bentuk penghormatan terhadap pekerjaan operator madrasah yang semakin penting di tengah transformasi digital pendidikan.
Menariknya, apresiasi itu datang kepada dua orang yang bukan hanya berbagi profesi, tetapi juga berbagi kehidupan.
Hari itu, mereka pulang membawa dua sertifikat. Dua penghargaan dari dua madrasah yang berbeda. Namun, barangkali makna terbesarnya justru sederhana: ketika pasangan saling memahami pekerjaan masing-masing, keberhasilan satu orang dapat menjadi kebahagiaan bagi keduanya.
Kemerdekaan pun menemukan makna yang lebih personal. Ia tidak hanya dirayakan dengan bendera, upacara, dan seremoni, tetapi juga melalui penghargaan kepada orang-orang yang setiap hari bekerja dalam diam untuk memastikan pendidikan tetap berjalan.
Robbi dan Nurfadhillah menunjukkan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam kata-kata. Kadang ia hadir dalam bentuk saling mendukung pekerjaan, memahami kesibukan, dan akhirnya berdiri bersama membawa pulang sebuah penghargaan.
Dua operator. Dua madrasah. Dua sertifikat. Satu cerita keluarga.
Dan pada Hari Kemerdekaan ke-81 itu, mereka membuktikan: ada cinta yang tumbuh bukan hanya dari rumah, tetapi juga dari ruang kerja, pengabdian, dan mimpi yang dikerjakan bersama. []










