Aceh Besar, wartasabang.com — Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Madrasah Aliyah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar membentuk Presidium sebagai wadah koordinasi bersama antar-MGMP.
Pembentukan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut musyawarah guru mata pelajaran rumpun PAI yang meliputi MGMP Al-Qur’an Hadis, MGMP Akidah Akhlak, MGMP Fikih, dan MGMP Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).
Dalam struktur yang dibentuk, Ismail Darimi, S.Pd.I., M.Ag. dipercaya sebagai Koordinator Presidium, didampingi Indra S., S.Pd.I., MA dan Fitriah, S.Ag. sebagai Wakil Koordinator Presidium. Sementara Zulfitra AJ., S.Hum., dipercaya sebagai Sekretaris Presidium dan Nuranisah, S.Pd.I., M.Pd. sebagai Bendahara Presidium.
Koordinator Presidium, Ismail Darimi, menegaskan bahwa posisi Presidium tidak dimaksudkan sebagai struktur yang menempatkan satu orang sebagai ketua dari empat MGMP.
“Koordinator Presidium bukan ketua dari empat MGMP. Masing-masing MGMP tetap memiliki struktur, kewenangan, dan kepengurusan masing-masing. Presidium hadir sebagai ruang koordinasi antar-MGMP agar komunikasi, kolaborasi, dan program bersama dapat berjalan lebih efektif,” ujar Ismail.
Menurut dia, keberadaan Presidium justru diharapkan dapat memperkuat kemandirian masing-masing MGMP sekaligus membangun sinergi ketika terdapat agenda yang menyangkut kepentingan bersama guru rumpun PAI.
“Semangatnya bukan mengambil alih, tetapi menghubungkan. Bukan menyatukan struktur, tetapi menyatukan langkah,” katanya.
Ismail mengatakan, empat MGMP rumpun PAI memiliki karakteristik dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, setiap MGMP perlu tetap diberikan ruang untuk mengembangkan program sesuai kebutuhan mata pelajarannya.
Namun, terdapat sejumlah kepentingan bersama yang membutuhkan koordinasi, mulai dari peningkatan kompetensi guru, pengembangan perangkat pembelajaran, berbagi praktik baik, penguatan profesionalisme, hingga penyelenggaraan kegiatan bersama.
“Kalau setiap MGMP berjalan sendiri-sendiri, tentu tetap bisa berkembang. Tetapi ketika ada ruang koordinasi yang baik, kekuatan masing-masing MGMP dapat saling melengkapi,” ujarnya.
Ia berharap Presidium dapat menjadi simpul komunikasi dan kolaborasi yang mempertemukan gagasan dari empat MGMP rumpun PAI di Kabupaten Aceh Besar.
Menurut Ismail, keberadaan forum tersebut juga merupakan bagian dari upaya membangun budaya profesional di kalangan guru madrasah.
“Guru hari ini tidak cukup hanya mengajar. Guru harus terus belajar, berbagi, berkolaborasi, dan mampu merespons perubahan pendidikan. Karena itu, forum seperti MGMP harus menjadi ruang bertumbuh bersama,” katanya.
Sementara itu, struktur Presidium yang terbentuk diharapkan mampu menjaga komunikasi antar-MGMP tetap terbuka dan konstruktif. Setiap agenda bersama akan dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan pengurus MGMP terkait, sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Dengan terbentuknya Presidium, Forum MGMP Rumpun PAI diharapkan tidak hanya menjadi wadah administratif, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi profesional yang mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan program peningkatan mutu guru.
“Empat MGMP, empat karakter, tetapi satu semangat kolaborasi. Kita tidak sedang membuat satu MGMP baru. Kita sedang membangun jembatan agar empat MGMP dapat berjalan bersama dalam semangat saling menguatkan,” tutup Ismail.[]










