81 TAHUN INDONESIA, 21 TAHUN DAMAI ACEH: Kenapa Kita Masih Berkelahi?

- Jurnalis

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Oleh: Novi Sari Liani, M.Pd.*)

Kemarin, 15 Agustus 2026, saya melihat dua foto yang kontras di media sosial. Foto pertama: persiapan upacara 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia di Istana Negara. Semua tertata rapi, gagah, penuh khidmat. Foto kedua: peringatan 21 Tahun MoU Helsinki di Aceh. Spanduk tarik-menarik, orasi teriak-teriakan, aparat dan massa saling dorong. Ricuh.

Dua peringatan besar, hanya beda dua hari. Satu diperingati dengan khidmat, satu lagi diperingati dengan berkelahi. Pertanyaannya yang menyakitkan: mengapa kita masih berkelahi setelah 21 tahun damai?

81 Tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi usia kedewasaan. 21 Tahun MoU Helsinki seharusnya menjadi usia kematangan perdamaian. Jika seorang manusia berusia 21 tahun, ia sudah dianggap dewasa untuk berpikir, menikah, dan memimpin. Tapi mengapa perdamaian kita di Aceh masih seperti anak kecil, mudah tersulut dan mudah ricuh?

Saya melihat ada tiga penyakit yang belum sembuh dari tubuh Rakyat Aceh.

Pertama, kita belum sepakat apa arti Aceh Merdeka.

Bagi sebagian orang, Aceh Merdeka masih dimaknai sebagai bendera Bintang Bulan harus berkibar. Bagi sebagian lain, Aceh Merdeka berarti semua butir MoU Helsinki harus tuntas sekarang juga, termasuk soal migas dan KKR. Bagi pemerintah pusat, Aceh Merdeka berarti Aceh sudah cukup diberi otonomi khusus dan dana besar.

Tidak ada yang salah dengan semua tuntutan itu. Yang salah adalah cara kita menyampaikannya. Kita menyampaikannya dengan cara berkelahi, bukan dengan cara musyawarah. Padahal Islam, agama yang menjadi ruh MoU Helsinki itu sendiri, mengajarkan, “Wa syawwirhum fil amr” – bermusyawarahlah dalam segala urusan.

Baca Juga :  Peserta Didik Jadi Murid. Pendidik Jadi Mursyid, Mungkinkah?

MoU Helsinki lahir di meja perundingan di Finlandia, bukan di medan perang. Perdamaian itu lahir karena ada yang mau duduk, diam, dan mendengar. Mengapa di hari ulang tahunnya, kita justru memilih untuk berdiri, berteriak, dan tidak mau mendengar?

Kedua, kita memisahkan perdamaian dengan agama.

Inilah kesalahan terbesar kita. Kita menganggap MoU Helsinki adalah urusan politik Jakarta dan GAM saja. Kita lupa, MoU itu bisa terjadi karena kedua belah pihak sudah lelah melihat darah. Dan ketika manusia sudah lelah melihat darah, ia akan kembali kepada Tuhan.

Coba buka kembali naskah MoU Helsinki. Di sana ada jaminan bagi Aceh untuk menjalankan Syariat Islam. Itu bukan tempelan. Itu adalah inti. Rakyat Aceh mau damai dengan Indonesia karena Indonesia berjanji memberi ruang bagi Aceh untuk merdeka menjalankan agamanya.

Tapi 21 tahun kemudian, apa kabar Syariat kita? Masjid kita megah, tapi judi online merajalela di gampong. Qanun Jinayat ada, tapi korupsi masih tinggi. Pendidikan Islam kita banyak, tapi akhlak anak muda kita makin rapuh.

Bagaimana mungkin perdamaian bisa bertahan jika tiang agamanya keropos? Damai tanpa agama hanya akan menjadi gencatan senjata. Bukan perdamaian abadi.

Ketiga, kita lupa bahwa Rakyat Aceh sudah bosan.

Rakyat Aceh yang di warung kopi, di sawah, di dayah, mereka sudah bosan dengan drama politik setiap 15 Agustus. Mereka tidak peduli bendera apa yang berkibar, selama beras murah, anak bisa sekolah, dan bisa ibadah dengan tenang.

Baca Juga :  Antara Maklumat Ulama Aceh dan Resolusi jihad, ada yang terlupakan?

Ketika elit politik masih berkelahi soal tafsir MoU Helsinki di atas panggung, rakyat di bawah panggung hanya ingin satu: kepastian bahwa anak mereka tidak akan lagi mengalami konflik seperti yang mereka alami dulu.

Maka, di momen 81 Tahun Indonesia dan 21 Tahun Damai Aceh ini, saya ingin mengajak kita berhenti berkelahi.

Sudah cukup. Jika kita mengaku Rakyat Aceh yang beragama, mari kembalikan peringatan MoU Helsinki ke jalurnya: peringatan syukur, bukan peringatan dendam.

Isi 15 Agustus dengan doa bersama untuk para syuhada konflik, dengan santunan untuk janda korban, dengan zikir perdamaian di Masjid Raya Baiturrahman. Isi 17 Agustus dengan upacara yang khidmat, yang di dalamnya ada pembacaan ayat suci, bukan hanya mengheningkan cipta.

Rakyat Aceh Merdeka yang sejati bukan rakyat yang paling keras teriakannya di jalan. Tapi rakyat yang paling kuat menjaga perdamaiannya di gampong.

Jika kita masih berkelahi setelah 21 tahun damai, berarti ada yang salah dengan cara kita memahami merdeka. Merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti bebas dari hawa nafsu untuk menang sendiri.

Dirgahayu Indonesia yang ke-81. Selamat Damai Aceh yang ke-21. Semoga tahun depan, kita tidak lagi memperingatinya dengan ricuh, tapi dengan sujud syukur bersama.

Wallahu a’lam.

 

*)Penulis adalah Dosen PGSD Umuslim Bireuen.

Berita Terkait

Peserta Didik Jadi Murid. Pendidik Jadi Mursyid, Mungkinkah?
Antara Maklumat Ulama Aceh dan Resolusi jihad, ada yang terlupakan?
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:00 WIB

81 TAHUN INDONESIA, 21 TAHUN DAMAI ACEH: Kenapa Kita Masih Berkelahi?

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:36 WIB

Peserta Didik Jadi Murid. Pendidik Jadi Mursyid, Mungkinkah?

Rabu, 22 Oktober 2025 - 21:01 WIB

Antara Maklumat Ulama Aceh dan Resolusi jihad, ada yang terlupakan?

Berita Terbaru