Aceh Besar, wartasabang.com – Mata pelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) pada madrasah dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter, keagamaan, dan budaya akademik murid madrasah. Karena itu, peningkatan kompetensi dan mutu guru rumpun PAI menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia Workshop Implementasi Deep Learning dan Integrasi KBC dalam Pembelajaran, Ismail Darimi, S.Pd.I., M.Ag., dalam kegiatan yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Rumpun PAI Madrasah Aliyah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurut Ismail, guru Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) bukan sekadar pengampu mata pelajaran. Mereka memiliki peran penting dalam menanamkan nilai, membangun karakter, sekaligus menghidupkan ruh pendidikan Islam di madrasah.
“Mapel rumpun PAI pada Madrasah Aliyah merupakan ruh madrasah. Karena itu, peningkatan mutu guru rumpun PAI sangat penting agar pembelajaran agama tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi mampu membentuk karakter dan memberikan makna bagi kehidupan murid,” kata Ismail.
Ia mengatakan tantangan pendidikan saat ini menuntut guru untuk terus beradaptasi dengan perubahan. Kehadiran pendekatan deep learning dan integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi momentum bagi guru rumpun PAI untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, reflektif, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.
“Deep learning tidak hanya berbicara tentang bagaimana murid memahami pengetahuan secara mendalam, tetapi juga bagaimana mereka memiliki kesadaran, kecintaan, dan kemampuan mengamalkan nilai yang dipelajari,” ujarnya.
Workshop tersebut mengangkat tema “Deep Learning, Deep Loving” serta mengacu pada KMA Nomor 1503 Tahun 2025. Kegiatan diikuti guru mata pelajaran Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, Fikih, dan SKI pada Madrasah Aliyah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar.
Kegiatan menghadirkan H. Saifuddin, SE, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, sebagai keynote speaker. Adapun narasumber kegiatan adalah Hj. Ratna Zaidah, M.Ed., Pengawas Pembina Madrasah Aliyah Kabupaten Aceh Besar.
Menurut Ismail, penguatan MGMP juga menjadi bagian penting dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang kolaboratif. Guru tidak cukup hanya bekerja secara individual, tetapi perlu berbagi pengalaman, perangkat pembelajaran, strategi, serta praktik baik.
Ia menyebut empat MGMP rumpun PAI—Akidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, Fikih, dan SKI—memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat identitas madrasah.
“Guru harus terus belajar. MGMP jangan hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang bertumbuh, berbagi, dan melahirkan inovasi pembelajaran,” kata Ismail.
Dalam konteks tersebut, semangat “Deep Learning, Deep Loving” diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan. Nilai tersebut perlu diterjemahkan dalam proses pembelajaran yang membuat murid berpikir lebih mendalam, memiliki kepedulian, mencintai ilmu, mencintai sesama, dan semakin dekat dengan nilai-nilai keislaman.
Ismail menegaskan, peningkatan mutu guru rumpun PAI pada akhirnya bukan semata-mata untuk kepentingan guru. Dampak utamanya harus dirasakan murid dan madrasah.
“Ketika guru meningkat kualitasnya, pembelajaran akan meningkat. Ketika pembelajaran meningkat, karakter murid akan semakin kuat. Di situlah ruh madrasah benar-benar hidup,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Rumpun PAI Madrasah Aliyah dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat profesionalisme guru serta meningkatkan mutu pembelajaran Madrasah Aliyah di Kabupaten Aceh Besar.
Bagi Ismail, semangat tersebut pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan guru PAI yang tidak hanya mengajar agama, tetapi mampu menghidupkan nilai-nilai agama dalam diri murid.[]










