Banda Aceh | wartasabang.com — Derasnya hujan yang mengguyur tanah Rencong sejak akhir September 2025 menyisakan duka yang mendalam. Di saat ribuan rumah di Kabupaten Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Aceh Utara dan beberapa daerah lainnya terendam banjir bandang, sebuah gerakan kemanusiaan lahir dari bilik-bilik sekolah.
Pada Senin, 26 Januari 2026, Forum Madrasah Honorer Swasta (FORKOMAS) Aceh turun langsung ke titik-titik terdampak paling parah. Mereka datang bukan sekadar membawa bantuan materi, melainkan membawa pesan kuat bahwa dalam kesulitan, para pendidik tidak berjalan sendirian.
Banjir kali ini bukan sekadar siklus tahunan bagi para guru honorer. Di wilayah Aceh Utara dan Aceh Tamiang, air tidak hanya merendam perabot rumah tangga, tetapi juga melumpuhkan akses pendidikan. Banyak guru honorer yang kehilangan harta benda, sementara mereka masih memikul tanggung jawab mencerdaskan anak bangsa dengan upah yang seringkali jauh dari kata cukup.
Ketua FORKOMAS Aceh, M. Ridha, S.Kom, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk empati spontan dari sesama pejuang pendidikan.
“Kami melihat langsung bagaimana rekan-rekan kami di lapangan. Mereka tetap tegar meski rumahnya terendam. Bantuan ini adalah bentuk kasih sayang dan solidaritas dari Forum Madrasah Honorer Swasta untuk meringankan sedikit beban saudara-saudara kita di Aceh Tamiang, Pidie Jaya, dan Aceh Utara,” ujar M. Ridha di sela-sela penyaluran bantuan.
Penyaluran donasi dilakukan secara maraton di tiga kabupaten tersebut. Suasana haru menyelimuti saat tim FORKOMAS bertemu dengan para guru yang tetap melempar senyum meski seragam dan buku-buku mereka mungkin masih basah oleh lumpur sisa banjir.
M. Ridha menekankan pentingnya kesabaran dalam menghadapi ujian ini. Ia berharap bantuan yang terkumpul dari para donatur dapat menjadi pemantik semangat bagi para guru untuk segera bangkit.
“Semoga mereka yang tertimpa musibah diberi kekuatan dan kesabaran ekstra. Ujian ini berat, tapi kebersamaan kita jauh lebih kuat,” tambahnya.
Keberhasilan aksi donasi ini tidak lepas dari peran para donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya melalui FORKOMAS Aceh. Transparansi dan ketepatan sasaran menjadi kunci agar bantuan ini benar-benar menyentuh guru honorer yang paling membutuhkan.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur. Kebaikan Anda semua adalah nyawa bagi gerakan ini. Semoga menjadi amal jariyah yang tak terputus,” tutup Ridha.
Hingga berita ini diturunkan, FORKOMAS Aceh masih terus memantau perkembangan kondisi di lapangan, memastikan bahwa api semangat mengajar di pelosok Aceh tidak padam hanya karena terjangan banjir.[]










